Mengenal Gaya Politik Nabi Muhammad SAW yang Patut Diteladani

Kamis, 14 Desember 2023

Politik merupakan suatu aktivitas yang tidak dapat lepas dari kehidupan berbangsa, bernegara, maupun kehidupan beragama. Pada era Rasulullah pun tidak luput dari kegiatan berpolitik khususnya setelah terbentuknya masyarakat muslim di Madinah, hal tersebut dilakukan demi mengokohkan Islam serta kepentingan kemaslahatan umatnya.

Salah satu hasil dari kegiatan politik yang dilakukan Nabi Muhammad SAW yaitu terciptanya Piagam Madinah yang beliau rumuskan dan tanda tangani pasca hijrah dari Mekah ke Madinah (622). Contoh lainnya yaitu seperti perjanjian Hudaibiyah dan kesepakatan gencatan senjata antara kaum Muslimin dan kaum Musyrikin.

Kala itu di Madinah, beliau membangun masjid dengan tujuan selain untuk tempat beribadah juga untuk menjadikannya sebagai tempat untuk menerima delegasi-delegasi non muslim yang datang dari luar negeri.

Memasuki era politik seperti saat ini, sudah sepatutnya kita sebagai warga Indonesia dengan mayoritas beragama Islam meniru etika dan moral politik yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Adapun gaya politik pada era Rasulullah yaitu sebagai berikut:

  1. Mengutamakan musyawarah

Aktivitas politik Nabi Muhammad SAW selalu diputuskan melalui proses musyawarah baik antarindividu maupun kelompok. Dengan demikian untuk mendapatkan keputusan politis yang terbaik, Rasulullah selalu merumuskannya dengan orang-orang disekitarnya.

Contoh musyawarah yang dilakukan Rasulullah yaitu pada saat perang Uhud, beliau harus memutuskan untuk tetap berada di Madinah atau keluar dan menghadapi musuhnya. Hasil dari musyawarah tersebut yaitu menegaskan agar semuanya berangkat menghadapi musuh sehingga Nabi pun ikut bersama mereka. Adapun penggambaran sifat musawarah Rasulullah pun telah tercantum didalam Q.S. Al-Imran ayat 159:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

  • Bertujuan untuk kemaslahatan orang banyak

Ciri dari politik nabi yaitu selalu mengutamakan kepentingan umat daripada untuk kepentingan pribadi. Sifat mendahulukan umat dalam kepentingan politik membuat beliau terkadang mengurungkan niatnya saat hendak melakukan sesuatu.

Misalnya adalah saat Rasululla berniat untuk merenovasi ka’bah. Namun beliau mengurungkan niatnya karena takut akan mendapat penolakan serta memicu perselisihan diantara umat muslim yang saat itu keislamannya masih tergolong baru. Seperti yang tercantum dalam sebuah hadits yang artinya:

“Dari ‘Aisyah ra, bahwa Nabi Saw. berkata kepadanya, ‘Seandainya bukan karena keberadaan kaummu yang masih lekat dengan kejahiliyahan, tentu aku sudah perintahkan agar Ka’bah Baitullah dirobohkan lalu aku masukkan ke dalamnya bagian yang sudah dikeluarkan, aku akan jadikan (pintunya yang ada sekarang) rata dengan permukaan tanah, lalu aku buat pintu timur dan pintu barat dengan begitu aku membangunnya di atas pondasi yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim as.” (HR. al-Bukhari).

  • Teguh pada pendirian

Nabi Muhammad SAW sangatlah teguh terhadap pendiriannya, beliau tidak akan menerima gratifikasi atau imbalan tertentu agar ia berhenti dari kegiatan dakwah dan memimpin umat. Hal tersebut pernah terjadi ketika Rasulullah mendapatkan lobi dari kaum musyrikin melalui pamannya dengan menawarkan beragam kenikmatan duniawi. Nabi pun menjawab, “Wahai paman, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, supaya aku meninggalkan misiku, pasti aku akan menolaknya dan akan terus berusaha walau aku mati dalam melaksanakannya.” (Ibnu Hisyam, as-Sirah li Ibni Hisyam, [Beirut: Dar al-Jayl, 1411], jilid II, hal. 101).

  • Tidak berkhianat

Tindakan dan gerak politik Nabi Muhammad SAW sangat jauh dari kata pengkhiatan baik terhadap kawan maupun lawan. Bahkan ketika ada perjanjian antara Nabi dengan musuh, dan musuh terlihat gerak-gerik akan mengkhianati perjanjian tersebut, Allah melarang Nabi untuk menyerang sebelum adanya tindakan jelas yang berimplikasi pada pembatalan perjanjian. Hal ini disebutkan dalam surat Al-Anfal ayat 58 yang artinya: “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (Q.S. Al-Anfaal : 58)

  • Berasaskan keadilan

Keadilan merupakan salah satu contoh sifat politik yang diterapkan Rasulullah, baik kepada kaum muslimin maupun non-Muslim. Misalnya adalah suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW sedang bertamu di rumah Abu Bakar, lantas ada yang mengetuk pintunya. Ternyata orang tersebut beragama Nasrani dan ia bermaksud mencari Nabi saw sebab ia dizalimi oleh Abu Jahal bin Hisyam yang telah mengambil hartanya. Nabi saw pun segera ke rumah Abu Jahal dan memintanya untuk mengembalikan harta si Nasrani tersebut. Abu Jahal pada akhirnya mengembalikan harta tersebut.

Perilaku adil tersebut telah tercantum dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 8, yang artinya :

“Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil­lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..,” (QS Al-Maidah: 8).

Itulah beberapa sifat yang dimiliki Rasulullah saw saat berpolitik, ada baiknya kita sebagai umat muslim juga ikut menerapkan perilaku tersebut saat sedang berada dalam lingkup politik. Terutama bagi seorang pemimpin, sifat-sifat mulia tersebut tentu akan mampu meningkatkan kualitas kepemimpian yang amanah dan bertanggungjawab.

Referensi :

https://islam.nu.or.id/syariah/5-gaya-politik-nabi-muhammad-saw-yang-harus-diteladani-aR9nJ

https://www.google.com/amp/s/www.nu.or.id/amp/hikmah/kisah-rasulullah-yang-gemar-bermusyawarah-T3jNP

https://www.google.com/amp/s/nu.or.id/amp/sirah-nabawiyah/sikap-adil-rasulullah-terhadap-non-muslim-ioLLE