Rabu, 20 Desember 2023
Nabi Muhammad Saw merupakan Nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT dalam sejarah umat Islam, dan merupakan suri tauladan bagi setiap muslim. Seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Quran Surah Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-ahzab : 21).
Sifat tauladan Rasulullah begitu luar biasa sehingga umat Islam sangat terkagum-kagum dengan sosoknya tatkala mereka mendengar kisah hidupnya.
Lantas apa saja sebenarnya sifat-sifat mulia yang membuat semua orang terkagum-kagum dan sangat patut untuk kita teladani sebagai umat Islam? Berikut penjelasannya:
- Shiddiq (Benar dan Jujur)
Sifat teladan Rasulullah yang pertama yaitu shiddiq yang artinya “benar” atau “jujur”. Sifat ini pula yang membuat Nabi Muhammad senantiasa menjadi orang terpandang dan dipercaya oleh banyak orang, sehingga beliau telah menyandang gelar “al-amin” yang artinya “orang yang dapat dipercaya”.
Apa pun perkataan dan dikatakan dan diperbuat Nabi Muhammad SAW itu selalu sesuai dengan Al-Qur’an dan bukan merupakan atas kemauannya sendiri. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah An-Najm ayat 3-5 yang berbunyi:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ٣ اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ ٤ عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ ٥
Artinya: “dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya). Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya) yang diajarkan kepadanya oleh (malaikat) yang sangat kuat (Jibril).”
Hal ini perlu senantiasa diterapkan sejak kecil karena sifat jujur ini akah mencegah kita dari dosa-dosa yang mungkin timbul melalui lisan. Karena Allah SWT sangat membenci orang-orang yang suka berbohong dan khianat apalagi sampai memfitnah dan mengadu domba.
- Tabligh (Menyampaikan)
Sifat Rasulullah yang kedua yaitu tabligh yang artinya menyampaikan semua kebenaran yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepadanya.
Sebab Nabi Muhammad telah ditugaskan oleh Allah SWT untuk memberi peringatan, membimbing umat, memperbaiki, dan mempersiapkan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Allah SWT telah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bersifat tabligh seperti yang tercantum dalam surah Al-Maidah ayat 67 yang bunyinya,
۞ يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗوَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ ٦٧
Artinya: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak melakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjaga engkau dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.”
Sebagai umat pengikut Nabi Muhammad SAW, di zaman sekarang ini bukan berarti kita tidak bisa memiliki sifat tabligh seperti baginda Rasulullah. Dengan menyampaikan hal yang benar dan memperbaiki yang salah saja sudah merupakan sifat tabligh, baik itu disampaikan kepada 1 orang maupun banyak orang.
- Amanah (Dapat Dipercaya)
Sifat Rasulullah yang ketiga adalah amanah yang artinya “dapat dipercaya” dalam menyampaikan sesuatu. Hal ini berkaitan dengan tugas seorang rasul yang diberikan amanah oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyu serta menuntun umatnya ke jalan yang benar.
Nabi Muhammad SAW memegang amanah yang diberikan kepada beliau dengan sangat kuat. Apa pun yang beliau lakukan semata-mata hanya untuk Allah SWT dan tidak pernah menggunakan kekuasaan beliau untuk kepentingan pribadinya.
Sifat amanah Nabi Muhammad SAW tercantum dalam surah Al-A’raf ayat 68 yang berbunyi,
اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنَا۠ لَكُمْ نَاصِحٌ اَمِيْنٌ ٦٨
Artinya: Aku sampaikan kepadamu risalah-risalah (amanat) Tuhanku dan aku terhadap kamu adalah penasihat yang terpercaya.
- Fathanah (Cerdas)
Sifat Nabi Muhammad SAW yang keempat yang perlu diketahui adalah fathanah. Fathanah artinya cerdas atau mempunyai intelektual yang tinggi. Cerdas menurut pendapat orang-orang adalah kemampuan memahami dunia, berpikir rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif saat dihadapkan pada tantangan.
Secara umum, kecerdasan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu IQ (Intelligent Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). Nabi Muhammad SAW memiliki semua aspek kecerdasan tersebut.
Hal ini dapat dibuktikan dengan daya ingat beliau yang sangat tinggi dalam menghafal firman-firman yang disampaikan Allah SWT kepada beliau, kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi umatnya dengan kebijakan dan kesabaran, serta hanya mengabdikan dirinya hanya untuk Allah SWT saja.
Di lain sisi, Nabi Muhammad SAW memiliki pendapat yang berbeda mengenai definisi cerdas. Beliau mengatakan orang yang cerdas adalah orang beriman yang mempersiapkan bekal untuk menghadapi hidup setelah mati, sebagaimana hadits berikut.
Ibnu Umar berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah, tiba- tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Rasulullah dan bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, “Yang paling baik akhlak- nya. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’ Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.”” (HR Ibnu Majah, Ath-Thabrani, dan Al-Haitsamiy).
- Tawadhu (Rendah Hati)
Sifat Rasulullah yang kelima yaitu tawadhu yang artinya “rendah hati”. Sifat ini selalu tercermin dalam kehidupan Nabi Muhammad sehari-hari. Ia tidak pernah menyombongkan diri karena beliau merupakan Nabi utusan Allah.
Sifat selalu rendah hati ini haruslah tercermin dalam kehidupan umat Muslim sehari-hari. Seperti tidak memandang rendah status seseorang dan tidak menyombongkan diri ketika memiliki pangkat jabatan maupun kelebihan lainnya.
- Sabar
Sebagai teladan bagi seluruh umat manusia, Nabi Muhammad SAW mempunyai banyak sekali kualitas luar biasa dalam dirinya. Salah satu kualitas tersebut adalah kesabarannya yang tak terbatas.
Allah SWT sangat menyukai orang yang sabar. Allah senantiasa bersama orang yang sabar sebagaimana Allah selalu bersama kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW. Dalam surat Al-Baqarah ayat 153, Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 153)
Contoh sifat sabar dalam kehidupan sehari-hari sendiri dapat diterapkan dalam berbagai macam bentuk. Tetap bertahan saat menghadapi penderitaan dan hanya mengharap pertolongan dari Allah SWT semata, sabar saat sesuatu yang kita inginkan tertunda, tetap tabah dalam menghadapi kesulitan, tekun dalam mencapai tujuan, mengendalikan diri saat dihadapi provokasi, menguatkan tekad saat melawan godaan, serta tenang dalam berpikir dan bersikap merupakan beberapa penerapan sifat sabar.






