Cara Memilih Pemimpin yang Baik Menurut Perspektif Islam

Rabu, 13 Desember 2023

Pada zaman sekarang ini tidak heran jika semakin banyak kita jumpai orang-orang yang saling berlomba untuk memegang sebuah jabatan tertentu khususnya dalam sistem pemerintahan. Karena jabatan baik langsung maupun tidak langsung berkonsekuensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi presiden, kepala daerah, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan, direktur dan sebagainya merupakan impian dan obsesi semua orang, mulai dari kalangan politikus, purnawirawan, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat, bahkan sampai kepada artis.

Pada hakikatnya Allah SWT menciptakan manusia ke dunia memanglah untuk dijadikan pemimpin. Seperti yang tertulis dalam Q.S. Al Baqarah : 30 yang artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah (pemimpin) di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” 

Kepemimpinan dalam Islam adalah amanah. Seorang pemimpin pada hakikatnya mengemban amanah dari Allah SWT dan harus mampu menempatkan diri sebagai pembawa kebenaran dengan memberi contoh teladan yang baik, karena pemimpin adalah uswatun hasanah. Amanah itu mengandung konsekuensi mengelola dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan harapan dan kebutuhan pemiliknya. Karenanya kepemimpinan bukanlah hak milik yang boleh dinikmati dengan cara sesuka hati orang yang memegangnya.

Banyak yang mengejar jabatan tanpa memerhatikan siapa dirinya, bagaimana valuenya, apakah dia memang ahli dibidang tersebut dan sebagainya. Sebagian besar hanya berfokus pada keuntungan yang akan didapatkan jika menjadi pemimpin, padahal esensi dari pemimpin itu sendiri tidaklah sesederhana itu. Dibuktikan dengan maraknya kasus korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negara yang terjadi beberapa dekade terakhir ini. Tidak heran pada era politik sekarang ini sangatlah sulit untuk memilih calon pemimpin yang sekiranya Amanah dan bertanggung jawab. Lantas bagaimana Islam mengajarkan kita dalam memilih pemimpin yang amanah? Yuk Simak penjelasan berikut ini.

Hakikat Kepemimpinan

Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin. Q. S. Al-Baqarah (2): 124, “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim”.

Menjadi seorang pemimpin merupakan Amanah dari Allah SWT, sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.

Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: “Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)”.(H. R. Muslim). Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: “Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. “Maka jawab Rasulullah saw: “Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu”.(H. R. Bukhari Muslim).

Kriteria Pemimpin dalam Islam

Para ulama yang telah mempelajari Al-Quran dan Hadits telah menyimpulkan bahwa setidaknya ada 4 kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, kriteria ini dibuat berdasarkan sifat para Nabi dan Rasul dalam memimpin umatnya, Adapun kriteria tersebut yaitu sebagai berikut :

1. Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong.

2. Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat.

3. Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh.

4. Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).

Dalam Al-Quran juga terdapat ayat-ayat yang menyebutkan sifat-sifat pokok yang sekiranya harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya yaitu :

1. Q.S. As-Sajdah : 24 yang artinya: Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu bersabar dalam menghadapi semua permasalahan yang mungkin timbul selama ia menjadi pemimpin. Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat sabar tersebut.

2. Q. S. Al-Anbiyaa : 73, “Kami menjadikan mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk atas perintah Kami dan Kami mewahyukan kepada mereka (perintah) berbuat kebaikan, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, serta hanya kepada Kami mereka menyembah.”

Hal ini dapat tercapai apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka sehingga pemimpin tersebut mampu memberikan tauladan yang baik kepada pengikutnya.

3. Q.S. Al-Imran : 159, yang artinya: “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Ayat ini adalah contoh bagaimana Rasulullah memberikan tauladan menjadi pemimpin yang santun dan lemah lembut. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin dalam Perang Uhud sehingga menyebabkan kaum Muslimin menderita, tetapi Rasulullah tetap bersikap lemah lembut dan tidak marah terhadap para pelanggar itu, bahkan memaafkannya, dan memohonkan ampunan dari Allah untuk mereka.   

Rasulullah selalu bermusyawarah dengan mereka dalam segala hal, apalagi dalam urusan peperangan. Oleh karena itu kaum Muslimin patuh melaksanakan keputusan-keputusan musyawarah itu karena keputusan itu merupakan keputusan mereka sendiri bersama Nabi. 

4. Al-Maidah : 8, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini mengajarkan agar sekiranya para pemimpin selalu bersikap adil bahkan untuk hal-hal sepele sekalipun. Sikap ini sebaiknya dipraktekkan oleh setiap individu karena pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin baik itu untuk orang lain maupun untuk dirinya sendiri. ayat ini sangat relevan untuk dijadikan pegangan oleh mereka yang memiliki wewenang dalam menetapkan keputusan hukum.

Memilih Pemimpin

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang Amanah, jujur, cerdas dan bertanggung jawab. Adapun beberapa sifat pemimpin yang terdapat di dalam Al-Quran yaitu sifat sabar, santun, lemah lembut, bersikap adil, memiliki keyakinan dan akidah yang kuat serta dapat menjadi tauladan yang baik, sehingga dapat mengantarkan pengikutnya menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.